Fairy tail.

From fairest creatures we desire increase, that thereby beauty's rose might never die

Lucy

But as the riper should by time decease, his tender heir might bear his memory

Natsu

Within thine own bud buriest thy content and, tender churl, makest waste in niggarding

Erza Scarlet

Making a famine where abundance lies, thyself thy foe, to thy sweet self too cruel

Happy

Thou that art now the world's fresh ornament and only herald to the gaudy spring

nazzun On Jumat, 13 Juli 2012

Ali bin Abi Thalib





Bertambah pesatnya kekuatan dan popularitas Rasulullah di Madinah menjadi pemandangan yang mengganggu orang-orang Yahudi setempat. Dalam hati mereka mulai tumbuh rasa iri dan mereka menganggap bahwa Rasulullah akan menjadi orang yang mendominasi politik Madinah. Oleh karena itu, mereka masuk dalam suatu intrik dengan orang-orang Mekah dan berkembang menjadi konspirasi untuk menghancurkan Nabi dan agama yang dibawanya.
     Segera saja, awan perang menggumpal dengan cepat dan kian tebal. Kaum muslimin terpaksa menghunus pedang mereka untuk membela agama baru dan negara yang baru lahir itu.
     Peperangan berlangsung sengit antara tentara Yahudi dan tentara muslim memakan waktu dua hari. Pada hari ketiga, sahabat Ali yang gagah berani diberi mandat untuk memimpin pasukan. Keberaniannya yang luar biasa dan semangatnya yang tiada batas, membangkitkan api semangat kaum muslimin hingga membuat mereka bertempur dengan tenaga baru, seolah-olah mereka belum bertempur pada hari sebelumnya. Orang-orang Yahudi dapat dipukul mundur dan akhirnya mereka melarikan diri. Ali mengejar musuh dan maju ke depan pintu gerbang benteng pertahanan Yahudi. Tiba-tiba seorang prajurit Yahudi menyerangnya dengna pedang panjang. Ali menangkis serangannya dan menyerang balik. Pukulan pedang Ali membuatnya jatuh terbaring di tanah dan Ali meloncat ke arah musuh yang terjatuh itu, lalu ia menodongkan pedangnya. pada saat itu si Yahudi meludahi wajah Ali.
     Saat tiu juga Ali menarik pedangnya seraya menyarungkannya, dan membiarkan si Yahudi itu bebas. Ali berdiri di sampingnya sambil menyeka wajahnya. Si Yahudi bankit dan berdiri termangu, tidak melarikan diri dan tidak pula mengambil kembali pedangnya.
     Dia bertanya kepada Ali,"Mengapa kamu membiarkan diriku ketika aku meludahi wajahmu. padahal dengan perbuatanku itu kamu mesitinya dendammu padakaku semakin dalam."
     Ali menjawa dengna kalem, "Kawan, saat kamu meludahiku, aku merasa jengkel dan saat itu juga aku menyadari bahwa aku tidak punya hak lagi untuk membunuhmu, karena bisa jadi itu karena balas dendam pribadi. Kami siap tebunuh dan membunuh utnuk membela keyakinan yang telah Allah percayakan dalam hati kami, tetapi kami tidak boleh menyentuk walau sehelai rambut mush karena denmdam pribadi terhadap seorang mush."

                                                                                                                 -Hurriat-i-Islam

Keputusan Ali

     Dua orang musafir melakukan perjalanan bersama. Musafir pertama mempunyai lima potong roti dan musafir kedua memiliki tiga potong roti. Di tengah perjalanan mereka, ada musafir ketiga turut bergabung. Ketikakanya diserang lapar, mereka menghaabiskan roti mereka dengna bagian yang sama. Ketika musafir ketiga memisahkan diri, ia membayar delapan dirham. Musair pertama yang memiliki lima potong roti menawarkan tiga dirham kepada musafir kedua yang memiliki tiga roti. Tetapi ia menolah pembagian tersebut dan mendesak agar ia mendapat bagian yang sama, yaitu empat dirham.
     Perselisihan mereka diadukan kepada Ali untuk diputuskan. Ali meminta agar musafr kedua menerima tawaran tiga dirham itu, tetapi ia malah mengulangi tuntutannnya yaitu bagian yang sama alias empat dirham.
     "Kalau begitu kamu akan dapat satu dirham saja dan temanmu ini dapat tujuh dirham. Alasannya, belah masing-masing roti menjadi tiga bagian yang sama, kalian akan mendapatkan dua puluh empat bagian yang sama dari delapan roti kalian. Masing-masing musafir makan delapan potong roti dari dua puluh empat potong roti itu. Musafir yang memiliki tiga roti hanya mendapatkan sembilan roti, delapan diantaranya sudah ia makan, jadi hanya punya sisa satu potongan roti. Musafir yang memiliki lima roti mendapatkan lima belah potong roti depalan diantaranya sudah ia makan dan menyisakan tujuh potong roti. Musafir ketiga memakan delapan potongan roti ini dan membayar delapan dirham untuk masing-masing potong. oleh karena itu, musafir kedua, yang punya tiga potong roti hanya mendapatkan satu dirham karena ia hanya menyisakan satu roti. Dan musafir pertama pemilik lima potong roti mendapatkan tujuh dirham karena ia menyisakan tujuh potong roti.''

                                                                                           -The Early Heroes of Islam (Salik)

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments