nazzun
On Jumat, 15 Juni 2012
Di awal hslam, para pengikut Nabi seringkali menerima siksaan lantaran meninggalan kepercayaan pagan warisan moyang mereka. Salah seorang yang terkenal paling kejam menyiksa kaum muslimin adalah Umar bin Khattab. Postu tubuhnya tinggi dan kuat, ia terkenal sangat pemberani. Umar tidak lain adalah teror bagi siapa pun yang mengenalnya.
Tapi penyiksaan terbukti tidak mampu menggoyahkan iman kaum muslimin. Para pemeluk baru terus bertambah jumlahnya. Perkembangan ini kian membuat Umar geram. karenanya ia bermaksud menyingkirkan Muhammad dengan tangannya sendiri. Dengan pedang terhunus, Umar berjalan menuju bukit Shafa yang saat itu merupakan tempat tinggal Rasulullah.
DI tengah perjalan ke Shafa, ia berpapasan dengan Na'im. Lelaki ini dnegan kasar menyarankan agar sebelum membunuh orang lain, lebih baik Umar mengurus adiknya, Fatimah dan suaminya Sayid yang telah memelukk Islam.
Terkoyak harga diri Umar, demi mendengar berita itu. Dengan amarah memuncak, ia bergegas menuju ke rumah adik perempuannya. Saat itu Fatimah pada tengah membaca al-Qur'an. melihat kedatangan Umar dengan wajah merah padam, ia cepat-cepat ia mulai menyembunyikan beberapa ayat dari luar rumah dan menannyakan apa yang baru saja dibaca adiknya. Dengan gemetar Fatimah menjawab, "Aku tidak membaca apa pun."
Sayid datan menghampiri. Umar membentak, "Bedebah! Kalian berdua telah mengingkari kepercayaan nenek moyang kalian. Sekarang rasakan akibatnya!"
Selesai berkata demikian, Umar memukul Sayid bertubi-tubi. Fatimah berusaha menolong suaminya, namun ia juga terkena ppukulan Umar sehingga darahnya mengucur deras. Fatimah semakin bertambah putus asa dan dengan tegas ia menyatakan bahwa ia tidak akan meninggalkan agama barunya meskipun Umar membunuhnya.
Umar tersentak mendengar pernyataan saudara perempuannya itu. Kemarahannya mereda saat mellihat darah yang mengucur dari luka adiknya. Ia menghampiri adiknya dan memintanya untuk membacakan bebrapa ayat Al-Qur'an untuknya. Fatimah mengambil lembaran-lembaran Al-Qur'an lalu menyerahkannya pada ayat : "Segala sesuatu yang ada di bumi dan langit bertasbih memuji Allah , zat yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui."
Keindahan gaya bahasa, irama yang merdu dan pengaruh yang mendalam dari ayat tersebut menggerakkan kesadarannya. saat ia sampai pada ayat " Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-Nya!" secara tidak sadar Umar berseru, " Sungguh aku beriman kepada Allah dan rasul-Nya."
Dengan pedang yang masih terhunus di tangan dan dengan darah adiknya yang menodai tubuh, Umar bergegas menuju ke tempat Rasulullah. Saat itu Rasulullah tengah berada dalam majelis bersama beberapa sahabat. Umar bergegas menpercepat langkah. Kedatangan Umar dengan pedang terhunus membuat sebagian sahabat merasa ketakutan. Tetapi Rasulullah dengan tenang menyapa Umar, "Ada apa Umar? Apa yang bisa aku bantu?"
"Wahai Rasulullah! Terimalah aku! Aku datang untuk memeluk Islam," jawab Umar.
"Allahu Akbar!" seru Rasulullah mendengan peryataan Umar. Seluruh yang hadir di mahelis itu pun turut berseru, "Allahu Akbar!"
Bukit Shafa gemuruh oleh suara takbir dan semenjak peristiwa itu, lahirlah pekik 'Allahu Akbar' sebagai peryataan kegembiraan. Pekik ini mempertahankan, memberi semangat dan memberi inspirasi bagi jtuaan kaum muslimin pada masa-masa sulit atau penindasan, kapan dan di tempat manapun.
(Dari: asy-syibli)
KEADILAN DI MATA UMAR
SuaAtU kali, beberapa botol minyak kesturi dibawa kepada Umar dari Bahrain.
Umar bertaya, "Adakah seseorang di antara kalian yang mampu menakar dan membaginya secara rata untuk kaum muslimin?"
Istrinya, Atiqah, menjawab, "Ya, aku siap menakarnya."
Khalifah terdiam sejenak. setelah beberapa lama, ia bertanya lagi, "Adakah di antara kalian yang mamu menakarnya sehingga aku bisa mendistribusikannya?"
"Ya, aku bisa," Atiqah kembali menjawab.
Khalifah menukah, "Minyak kesturi itu akan membasahi tanganmu saat kamu menakarnya dan kemudian mungkin saja kamu akan mengusap wajahmu dengan tangan itu dan kamu menikmati aromanya. Aku tidak ingin melihatmu mendapat lebih banyak meskipun dengan cara demikian."
-Hikayat-i-Sahabah (Zakaria)

